Sunday, May 24, 2015

batu akik, mistis dan seni



      Dulu saya mengenal batu akik karena saya hoby "jalan-jalan malam", ditemani oleh almarhum bapak beserta rombongan beliau. cukup sekedar melupakan rutinitas harian dan kami sering menyebutnya dengan istilah "proyek dedemit".
       Apa ada diantara anda yang tak kenal dedemit,.??....."ah itu kan konyol mas",... ya silahkan berkomentar begitu, ini kan sekedar cerita ngalor ngidul saja sebelum nanti masuk ke intinya.
        Ok,.kembali ke cerita masa kecil saya di kota penuh cinta,makanan enak, wisata alam yang menakjubkan, penuh budaya dan ramah tamah. batu akik yang notabene sekarang dikenal sebagai citarasa seni memotong dan menggosok dulu merupakan hasil perwujudan dari "belanja"di alam abstrak alias alam gaib. yang cukup jadi pertanyaan adalah, "kenapa setiap diwujudkan batu tersebut selalu berbentuk batu akik  yang sudah siap diikat menjadi batu cincin". dan sampai sekarangpun saya belum bisa menjawabnya.
          Setelah sekian banyak koleksi terkumpul akhirnya saya membeli sebuah buku di pasar Beringharjo dengan judul " Batu permata dunia" karangan antah berantah. nah mulai dari sini kita akan sedikit lebih fokus.

         Kriteria penilaian batu mulia menurut saya harus memenuhi minimal 3C (Cut,Carat,Clarity)

1. Cut atau potongan

         Potongan batu juga sangat penting, ini lebih banyak dilihat berdasarkan hasil potongan yang cacat daripada yang baik. nilai proporsional dan ketepatan potong untuk mendapatkan pencahayaan dan bentuk yang terbaik sehingga dapat memaksimalkan keindahan dari batu tersebut.

Ini dipotong buruk: kita bisa melihat melalui itu ("mata ikan") dan tidak sparkle. Ini dipotong buruk: kita bisa melihat melalui itu ("mata ikan") dan tidak sparkle. dipotong ini lebih baik. Namun cahaya masih hilang melalui ke bawah Ini adalah dipotong sempurna. Lihat berapa banyak semakin berkilau?
 
berikut sebuah bentuk potongan batu mulia yang tidak melulu harus setengah lingkaran
..nah ini baru teknik memotong bro...

 Pada dasarnya teknik potongan batu permata didasarkan pada jenis batu itu sendiri, ya ndak mungkin toh batu lumut saya potong menjadi seperti potongan berlian (faceted), teknik potongan cabochon lebih pantas digunakan untuk batu mulia yang ingin menampilkan sisi permukaannya.



 2. Carat atau karat

     Karat adalah satuan massa atau berat yang digunakan sebelum dikonversian kedalam nilai uang tertentu ( ora mudeng kan,.? )....sederhananya nilai suatu berat berdasarkan nilai mata uang. kalo di pasar sini dalam Rupiah.  
     Istilah lain yang Anda harus akrab dengan adalah TCW . Ini adalah singkatan untuk Total Carat Weight. Ketika berlian atau jenis batu permata yang lain berukuran sangat kecil dan biasanya termasuk dalam sepotong perhiasan atau dikenal sebagai chip, bukannya memberikan pengukuran masing-masing batu kecil individu, itu diberikan berat total semua chip bersama-sama.
Hal ini juga penting untuk dicatat bahwa berlian kasar atau batu permata jauh lebih besar dalam berat karat sebelum dipotong. Biasanya melalui proses pemotongan, banyak bahan berkualitas rendah akan tersisih, terutama inklusi jika memungkinkan. Hasilnya massa akan berkurang, tetapi biasanya kualitas batu akan jauh lebih cantik dan lebih tinggi. 
    saya harap anda mengerti lebih dari saya......................

3. Clarity atau kejelasan

   Intinya adalah kejernihan atau kejelasan yang terdapat dalam benda tersebut, daripada saya berceloteh banyak bak marketing lebih baik kita lihat gambar dibawah ini



Miskin Kejelasan: batu ini hampir kabur. Kita tidak bisa melihat ke dalamnya, dan tidak dapat kita melihat cahaya refleksi atau bercahaya dari dalam karena deposit mineral tebal (inklusi) di dalamnya. Safir kejelasan ini adalah umum dan kurang berharga Kejelasan Layak: Kita bisa melihat ke sapphire ini agak: kedalaman warna dan cahaya yang mencerminkan dari beberapa aspek. Daerah berawan putih masih menghalangi keindahan dan membuatnya kurang berharga. Kejelasan Khas: safir ini jelas tidak sempurna, tapi kita bisa menangkap cahaya dari sebagian besar aspek bawah. Ini adalah perwakilan dari apa yang banyak tersedia di pasar dan harga menengah (tergantung juga pada warna, potong dan ukuran) Baik karena Gets. Wow. Sebuah safir sangat bagus, yang sejauh mata bisa mengatakan sangat jelas. Kita melihat ke seluruh batu dan menangkap banyak cahaya pantulan. Sapphire seperti ini jarang terjadi dan harga atas perintah.
 nah cukup dengan gambar justru anda yang akan menjelaskan ke saya nilai 2 sebuah "gemstone",  tapi bagaimanakah dengan batu yang tidak tembus pandang, sama halnya dengan item pertama. Clarity bisa tidak berlaku untuk beberapa jenis batu mulia.

     
berdasar 3 hal tersebut, dahulu saya bisa memilah mana yang lebih berharga dan lebih punya nilai ekonomi,

 Batu permata "palsu" dan "asli":
Imitasi: Ini adalah apa yang bisa paling cukup disebut "palsu". Bila ada sesuatu yang dibuat agar terlihat seperti batu permata yang sesungguhnya adalah substansi yang sama sekali berbeda - yang imitasi. Sebagai contoh, bayangkan Anda berada di sebuah pasar loak dan Anda melihat sebuah cincin dengan batu "cantik merah" dan penjual memberitahu Anda itu adalah suatu ruby atau pirus. Namun, bila Anda bawa untuk mendapatkan penilaian Anda menemukan itu kaca. Kau dijual tiruan "" atau "palsu" Catatan tentang palsu.: Skenario ini terdengar bencana dan mungkin membuat Anda sangat takut pernah membeli perhiasan batu permata, namun sebenarnya, hal itu jarang terjadi. Jual perhiasan palsu (dan mengklaim itu nyata) adalah penipuan. Karena seperti batu permata adalah produk yang sensitif (mahal dan misterius), reputasi adalah segalanya. Jual satu batu palsu bahkan setelah 25 tahun menjual perhiasan yang baik bisa menghancurkan penghidupan penjual dengan menghancurkan reputasi mereka selamanya. Oleh karena itu, yakinlah bahwa kebanyakan orang yang profesional atau batu permata perhiasan penjual akan melakukan segala yang mungkin untuk memastikan mereka tidak menjual sesuatu yang palsu.

empritgantil








Thursday, May 21, 2015

makna hidup yang disalah artikan " kejawen"

Ajaran kejawen, dalam perkembangan sejarahnya mengalami pasang surut. Hal itu tidak lepas dari adanya benturan-benturan dengan teologi dan budaya asing (Belanda, Arab, Cina, India, Jepang, AS). Yang paling keras adalah benturan dengan teologi asing, karena kehadiran kepercayaan baru disertai dengan upaya-upaya membangun kesan bahwa budaya Jawa itu hina, memalukan, rendah martabatnya, bahkan kepercayaan lokal disebut sebagai kekafiran, sehingga harus ditinggalkan sekalipun oleh tuannya sendiri, dan harus diganti dengan “kepercayaan baru” yang dianggap paling mulia segalanya. Dengan naifnya kepercayaan baru merekrut pengikut dengan jaminan kepastian masuk syurga. Gerakan tersebut sangat efektif karena dilakukan secara sistematis mendapat dukungan dari kekuatan politik asing yang tengah bertarung di negeri ini.
Selain itu “pendatang baru” selalu berusaha membangun image buruk terhadap kearifan-kearifan lokal (baca: budaya Jawa) dengan cara memberikan contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), penyimpangan sosial,  pelanggaran kaidah Kejawen, yang terjadi saat itu, diklaim oleh “pendatang baru” sebagai bukti nyata kesesatan ajaran Jawa. Hal itu sama saja dengan menganggap Islam itu buruk dengan cara menampilkan contoh perbuatan sadis terorisme, menteri agama yang korupsi, pejabat berjilbab yang selingkuh, kyai yang menghamili santrinya, dst.
 Tidak berhenti disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan manusia Jawa dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. Bukti-bukti kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali naskah-naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, budi pekerti yang luhur bangsa (Jawa) Indonesia kuno sebelum era kewalian datang, kemudian dibumi hanguskan oleh para “pendatang baru” tersebut. Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, istilah-istilah Jawa yang dahulu mempunyai makna yang arif, luhur, bijaksana, kemudian dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif disesuaikan dengan kepentingan “pendatang baru” yang tidak suka dengan “local wisdom”. Akibatnya; istilah-istilah seperti; kejawen, klenik, mistis, tahyul mengalami degradasi makna, dan berkonotasi negatif. Istilah-istilah tersebut “di-sama-makna-kan” dengan dosa dan larangan-larangan dogma agama; misalnya; kemusyrikan, gugon tuhon, budak setan, menyembah setan, dst. Padahal tidak demikian makna aslinya, sebaliknya istilah tersebut justru mempunyai arti yang sangat religius sbb;

Klenik : merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan hukum sebab akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak lain bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agama manapun unsur “klenik” ini selalu ada.
Mistis : adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam agama Islam ruang mistik untuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan istilah tasawuf.
Tahyul : adalah kepercayaan akan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan makhluk gaib ciptan Tuhan. Manusia Jawa sangat  mempercayai adanya kekuatan gaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta.  Kepercayaan kepada yang gaib ini juga terdapat di dalam rukun Islam.
Tradisi : dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai bentuk isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: not action talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji dsb sebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam berdoa melibatkan empat unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan tindakan. Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib yang hidup berdampingan, agar selaras dan harmonis dalam manembah kapada Tuhan. Bagi manusia Jawa, setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakan riil (ihtiyar) sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat membuat doa terkabul. Akan tetapi niat dan makna dibalik tradisi ritual tersebut sering dianggap sebagai kegiatan gugon tuhon/ela-elu, asal ngikut saja,  sikap menghamburkan, dan bentuk kemubadiran, dst.
Kejawen : berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara manusia dalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Akan tetapi, setelah abad 15 Majapahit runtuh oleh serbuan anaknya sendiri, dengan cara serampangan dan subyektif, jauh dari kearifan dan budi pekerti yg luhur, “pendatang baru” menganggap ajaran kejawen sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dan kekafiran. Maka harus dimusnahkan. Ironisnya, manusia Jawa yang sudah “kejawan” ilang jawane, justru mempuyai andil besar dalam upaya cultural assasination ini. Mereka lupa bahwa nilai budaya asli nenek moyang mereka itulah yang pernah membawa bumi nusantara ini menggapai masa kejayaannya di era Majapahit hingga berlangsung selama lima generasi penerus tahta kerajaan.

Ajaran Tentang Budi Pekerti, Menggapai Manusia Sejati
Dalam khasanah referensi kebudayaan Jawa dikenal berbagai literatur sastra yang mempunyai gaya penulisan beragam dan unik. Sebut saja misalnya; kitab, suluk, serat, babad, yang biasanya tidak hanya sekedar kumpulan baris-baris kalimat, tetapi ditulis dengan seni kesusastraan yang tinggi, berupa tembang yang disusun dalam bait-bait atau padha yang merupakan bagian dari tembang misalnya; pupuh, sinom, pangkur, pucung, asmaradhana dst. Teks yang disusun ialah yang memiliki kandungan unsur pesan moral, yang diajarkan tokoh-tokoh utama atau penulisnya, mewarnai seluruh isi teks.
Pendidikan moral budi pekerti menjadi pokok pelajaran yang diutamakan. Moral atau budi pekerti di sini dalam arti kaidah-kaidah yang membedakan baik atau buruk segala sesuatu, tata krama, atau aturan-aturan yang melarang atau menganjurkan seseorang dalam menghadapi lingkungan alam dan sosialnya. Sumber dari kaidah-kaidah tersebut didasari oleh keyakinan, gagasan, dan nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat yang bersangktan. Kaidah tersebut akan tampak dalam manifestasi tingkah laku dan perbuatan anggota masyarakat.
Demikian lah makna dari ajaran Kejawen yang sesungguhnya, dengan demikian dapat menambah jelas  pemahaman terhadap konsepsi pendidikan budi pekerti yang mewarnai kebudayaan Jawa. Hal ini dapat diteruskan kepada generasi muda guna membentuk watak yang berbudi luhur dan bersedia menempa jiwa yang berkepribadian teguh. Uraian yang memaparkan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang diungkapkan diatas dapat membuka wawasan pikir dan hati nurani bangsa bahwa dalam masyarakat kuno asli pribumi telah terdapat seperangkat nilai-nilai moralitas yang dapat diterapkan untuk mengangkat harkat dan martabat hidup manusia.

Dua Ancaman Besar dalam Ajaran Kejawen
Dalam ajaran kejawen, terdapat dua bentuk ancaman besar yang mendasari sikap kewaspadaan (eling lan waspada), karena dapat menghancurkan kaidah-kaidah kemanusiaan, yakni; hawanepsu dan pamrih. Manusia harus mampu meredam hawa nafsu atau nutupi babahan hawa sanga. Yakni mengontrol nafsu-nafsunya yang muncul dari sembilan unsur yang terdapat dalam diri manusia, dan melepas pamrihnya.
Dalam perspektif kaidah Jawa, nafsu-nafsu merupakan perasaan kasar karena menggagalkan kontrol diri manusia, membelenggu, serta buta pada dunia lahir maupun batin. Nafsu akan memperlemah manusia karena menjadi sumber yang memboroskan kekuatan-kekuatan batin tanpa ada gunanya. Lebih lanjut, menurut kaidah Jawa nafsu akan lebih berbahaya karena mampu menutup akal budi. Sehingga manusia yang menuruti hawa nafsu tidak lagi menuruti akal budinya (budi pekerti). Manusia demikian tidak dapat mengembangkan segi-segi halusnya, manusia semakin mengancam lingkungannya, menimbulkan konflik, ketegangan, dan merusak ketrentaman yang mengganggu stabilitas kebangsaan

NAFSU
Hawa nafsu (lauwamah, amarah, supiyah) secara kejawen diungkapkan dalam bentuk akronim, yakni apa yang disebut M5 atau malima; madat, madon, maling, mangan, main; mabuk-mabukan, main perempuan, mencuri, makan, berjudi. Untuk meredam nafsu malima, manusia Jawa melakukan laku tapa atau “puasa”. Misalnya; tapa brata, tapa ngrame, tapa mendhem, tapa ngeli.
Tapa brata ; sikap perbuatan seseorang yang selalu menahan/puasa hawa nafsu yang berasal dari lima indra. Nafsu angkara yang buruk yakni lauwamah, amarah, supiyah.
Tapa ngrame; adalah watak untuk giat membantu, menolong sesama tetapi “sepi” dalam nafsu pamrih yakni golek butuhe dewe.
Tapa mendhem; adalah mengubur nafsu riak, takabur, sombong, suka pamer, pamrih. Semua sifat buruk dikubur dalam-dalam, termasuk “mengubur” amal kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang lain, dari benak ingatan kita sendiri. Manusia suci adalah mereka yang tidak ingat lagi apa saja amal kebaikan yang pernah dilakukan pada orang lain, sebaliknya selalu ingat semua kejahatan yg pernah dilakukannya.
Tapa ngeli, yakni menghanyutkan diri ke dalam arus “aliran air sungai Dzat”, yakni mengikuti kehendak Gusti Maha Wisesa. “Aliran air” milik Tuhan, seumpama air sungai yang mengalir menyusuri sungai, mengikuti irama alam, lekuk dan kelok sungai, yang merupakan wujud bahasa “kebijaksanaan” alam. Maka manusia tersebut akan sampai pada muara samudra kabegjan atau keberuntungan. Berbeda dengan “aliran air” bah, yang menuruti kehendak nafsu akan berakhir celaka, karena air bah menerjang wewaler kaidah tata krama, menghempas “perahu nelayan”, menerjang “pepohonan”, dan menghancurkan “daratan”.

PAMRIH
     Pamrih merupakan ancaman ke dua bagi manusia. Bertindak karena pamrih berarti hanya mengutamakan kepentingan diri pribadi secara egois. Pamrih, mengabaikan kepentingan orang lain dan masyarakat. Secara sosiologis, pamrih itu mengacaukan (chaos) karena tindakannya tidak menghiraukan keselarasan sosial lingkungannya.  Pamrih juga akan menghancurkan diri pribadi dari dalam, kerana pamrih mengunggulkan secara mutlak keakuannya sendiri (istilahnya Freud; ego). Karena itu, pamrih akan membatasi diri atau mengisolasi diri dari sumber kekuatan batin. Dalam kaca mata Jawa, pamrih yang berasal dari nafsu ragawi akan mengalahkan nafsu sukmani (mutmainah) yang suci. Pamrih mengutamakan kepentingan-kepentingan duniawi, dengan demikian manusia mengikat dirinya sendiri dengan dunia luar sehingga manusia tidak sanggup lagi untuk memusatkan batin dalam dirinya sendiri. Oleh sebab itu pula, pamrih menjadi faktor penghalang bagi seseorang untuk mencapai “kemanunggalan” kawula gusti.
     Pamrih itu seperti apa, tidak setiap orang mampu mengindentifikasi. Kadang orang dengan mudah mengartikan pamrih itu, tetapi secara tidak sadar terjebak oleh perspektif subyektif yang berangkat dari kepentingan dirinya sendiri untuk melakukan pembenaran atas segala tindakannya. Untuk itu penting Sabdalangit kemukakan bentuk-bentuk pamrih yang dibagi dalam tiga bentuk nafsu dalam perspektif KEJAWEN :
Nafsu selalu ingin menjadi orang pertama, yakni; nafsu golek menange dhewe; selalu ingin menangnya sendiri.
Nafsu selalu menganggap dirinya selalu benar; nafsu golek benere dhewe.
Nafsu selalu mementingkan kebutuhannya sendiri; nafsu golek butuhe dhewe. Kelakuan buruk seperti ini disebut juga sebagai aji mumpung. Misalnya mumpung berkuasa, lantas melakukan korupsi, tanpa peduli dengan nasib orang lain yang tertindas.

Untuk menjaga kaidah-kaidah manusia supaya tetap teguh dalam menjaga kesucian raga dan jiwanya, dikenal di dalam falsafah dan ajaran Jawa sebagai lakutama, perilaku hidup yang utama. Sembah merupakan salah satu bentuk lakutama, sebagaimana di tulis oleh pujangga masyhur (tahun 1811-1880-an) dan pengusaha sukses, yang sekaligus Ratu Gung Binatara terkenal karena sakti mandraguna, yakni Gusti Mangkunegoro IV dalam kitab Wedhatama (weda=perilaku, tama=utama) mengemukakan sistematika yang runtut dan teratur dari yang rendah ke tingkatan tertinggi, yakni catur sembah; sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Catur sembah ini senada dengan nafsul mutmainah (ajaran Islam) yang digunakan untuk meraih ma’rifatullah, nggayuh jumbuhing kawula Gusti. Apabila seseorang dapat menjalani secara runtut catur sembah hingga mencapai sembah yang paling tinggi, niscaya siapapun akan mendapatkan anugerah agung menjadi manusia linuwih, atas berkat kemurahan Tuhan Yang Maha Kasih, tidak tergantung apa agamanya.


jiplakan dari seorang yang "arif dan bijak"

puisi pencari adrenalin

HRRR....HHRRRR...HHHRRR........
KAMI ADALAH PENUNGGANG MOTOR LIAR SEKALI,…………
HAMPIR SELALU TANCAP GAS DAN MENDERU-DERU,………………
KAMI TEROR JALAN RAYA,………………………………
KAMI MENANTANG SETIAP ORANG DAN DITANTANG SETIAP ORANG…………………..
TUBUH KAMI HANYA MENGENAL SATU KEGAIRAHAN,………….
MEMBUNGKUK DI PENGKOLAN,……………..
MERUNDUK DI JALAN LURUS,…………………….
NAFAS DAN PAKAIAN BAU BENSIN SERTA OLI YANG FANA NAN KEKAL ABADI,……………….
HIKMAT DAN KEINDAHAN TERSUGUH DALAM MERK HONDA,… YAMAHA,… SUZUKI,…. HARLEY DAVIDSON DAN CAGIVA,…….
HANYA ADA SATU CODA DARI MUSIK MESIN ,…….
YANG BERTAMBAH KERAS DARI MOTOR YANG BERTANDING,….
KEHENINGAN ABADI YANG TIADA TERSENTUH,……….
ADALAH NERAKA GILA KETIKA KAMI MENDERU DENGAN KECEPATAN SERATUS MENIKUK PENGKOLAN,……….
INILAH KEABADIAN BARU,………….
DI MANA YANG ADA HANYA ANGIN DAN HINGAR,………
DAN TIADA PEMBATASAN,…………………………….
DAN JANGAN PERNAH TAKUT KAWAN,………… SEBAB,………….
BEGITU MENAKJUBKAN KEHIDUPAN YANG TUHAN LIMPAHKAN,……….
SEHINGGA HANYA KEMATIAN YANG HEBAT ITULAH,………..
SATU-SATUNYA PENUTUP YANG BERMARTABAT,………………..
KAUDENGAR SI BUDI..?,…… GARPU DEPANNYA MASUK 30 CM KE DALAM POHON ASAM,……. BENAKNYA KELEPETAN DI TONGGAK KILOMETER DELAPAN BELAS,. HA,…..HA,…..HA,…..HA,…..
SI TOGOG TURUN DARI PUNCAK DENGAN MESIN MATI,………..
TOLOL,….. MENABRAK KAMBING,….. MELAYANG DI UDARA,…..
,….DAN,…… JUMPALITAN MASUK KALI,….. DAN COBA TERKA..!!
APA YANG MENYUSULNYA DARI LANGIT..?..MOTOR RX-KINGNYA.!!
RIJAL SETENGAH MATI MEMBURU PANTHER,…… TAPI IA BISA,…..
DAN BARU SAJA IA TANCAP GAS,…. APA YANG DATANG DARI SANA,..?…. SEBUAH TRUK,…. DITARIKNYA KEPALA DIANTARA KEDUA BAHUNYA,……..KAKINYA NAIK KE ATAS PERUT,………. ,…MATA TERPEJAM,…..MENEROBOS DI TENGAH BARISAN,…..
DAN,.. BUNYI TENG..!!!,….. PIJAKAN KAKI COPOT,………… TERSEREMPET TRUK DAN PANTHER ITU,…. RIJAL TAK TAU,….. DITURUNKANNYA KAKINYA,……TEK,…TEK,…. DIATAS JALAN,…. KEDUANYA PATAH,……..IA HERAN RUPANYA,…… DAN,……… LUPA BELOK,. ….. LALU MENGHANTAM BIS SURAT,…….
DAN DI MANA IA BERBARING,…?,…….. DI TANGGA APOTIK..!!!…
“…SUMPAH,…!!!,… KAMI SUNGGUH TAK KENAL TAKUT,…!!!,…”