Thursday, June 25, 2015

belajar sejarah

Di dalam Mitologi Jawa diceritakan bahwa salah satu leluhur Bangsa Sunda (Jawa) adalah Batara Brahma atau Sri Maharaja Sunda, yang bermukim di Gunung Mahera.
Selain itu, nama Batara Brahma, juga terdapat di dalam Silsilah Babad Tanah Jawi. Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang menurunkan Sang Hyang Nur Rasa. Sang Hyang Nur Rasa kemudian menurunkan Sang Hyang Wenang, yang menurunkan Sang Hyang Tunggal. Dan Sang Hyang Tunggal, kemudian menurunkan Batara Guru, yang menurunkan Batara Brahma.
Berdasarkan pemahaman dari naskah-naskah kuno bangsa Jawa, Batara Brahma merupakan leluhur dari raja-raja di tanah Jawa.

Bani Jawi Keturunan Nabi Ibrahim

Di dalam Kitab ‘al-Kamil fi al-Tarikh‘ tulisan Ibnu Athir, menyatakan bahwa Bani Jawi (yang di dalamnya termasuk Bangsa Sunda, Jawa, Melayu Sumatera, Bugis… dsb), adalah keturunan Nabi Ibrahim.
Bani Jawi sebagai keturunan Nabi Ibrahim, semakin nyata, ketika baru-baru ini, dari penelitian seorang Profesor Universiti Kebangsaaan Malaysia (UKM), diperoleh data bahwa, di dalam darah DNA Melayu, terdapat 27% Variant Mediterranaen (merupakan DNA bangsa-bangsa EURO-Semitik).
Variant Mediterranaen sendiri terdapat juga di dalam DNA keturunan Nabi Ibrahim yang lain, seperti pada bangsa Arab dan Bani Israil.
Sekilas dari beberapa pernyataan di atas, sepertinya terdapat perbedaan yang sangat mendasar. Akan tetapi, setelah melalui penyelusuran yang lebih mendalam, diperoleh fakta, bahwa Brahma yang terdapat di dalam Metologi Jawa indentik dengan Nabi Ibrahim.
Brahma adalah Nabi Ibrahim
Mitos atau Legenda, terkadang merupakan peristiwa sejarah. Akan tetapi, peristiwa tersebut menjadi kabur, ketika kejadiannya di lebih-lebihkan dari kenyataan yang ada.
Mitos Brahma sebagai leluhur bangsa-bangsa di Nusantara, boleh jadi merupakan peristiwa sejarah, yakni mengenai kedatangan Nabi Ibrahim untuk berdakwah, dimana kemudian beliau beristeri Siti Qanturah (Qatura/Keturah), yang kelak akan menjadi leluhur Bani Jawi (Melayu Deutro).
Dan kita telah sama pahami bahwa, Nabi Ibrahim berasal dari bangsa ‘Ibriyah, kata ‘Ibriyah berasal dari ‘ain, ba, ra atau ‘abara yang berarti menyeberang. Nama Ibra-him (alif ba ra-ha ya mim), merupakan asal dari nama Brahma (ba ra-ha mim).
Beberapa fakta yang menunjukkan bahwa Brahma yang terdapat di dalam Mitologi Jawa adalah Nabi Ibrahim, di antaranya :
1. Nabi Ibrahim memiliki isteri bernama Sara, sementara Brahma pasangannya bernama Saraswati.
2. Nabi Ibrahim hampir mengorbankan anak sulungnya yang bernama Ismail, sementara Brahma terhadap anak sulungnya yang bernama Atharva (Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali)…
3. Brahma adalah perlambang Monotheisme, yaitu keyakinan kepada Tuhan Yang Esa (Brahman), sementara Nabi Ibrahim adalah Rasul yang mengajarkan ke-ESA-an ALLAH.
Ajaran Monotheisme di dalam Kitab Veda, antara lain :
Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan, Dia tidak pernah dilahirkan, Dia yg berhak disembah
Yajurveda Ch. 40 V. 8 menyatakan bahwa Tuhan tidak berbentuk dan dia suci
Atharvaveda Bk. 20 Hymn 58 V. 3 menyatakan bahwa sungguh Tuhan itu Maha Besar
Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan
Rigveda Bk. 1 Hymn 1 V. 1 menyebutkan : kami tidak menyembah kecuali Tuhan yg satu
Rigveda Bk. 6 Hymn 45 V. 6 menyebutkan “sembahlah Dia saja, Tuhan yang sesungguhnya”
Dalam Brahama Sutra disebutkan : “Hanya ada satu Tuhan, tidak ada yg kedua. Tuhan tidak berbilang sama sekali”.

Ajaran Monotheisme di dalam Veda, pada mulanya berasal dari Brahma (Nabi Ibrahim). Jadi makna awal dari Brahma bukanlah Pencipta, melainkan pembawa ajaran dari yang Maha Pencipta.
4. Nabi Ibrahim mendirikan Baitullah (Ka’bah) di Bakkah (Makkah), sementara Brahma membangun rumah Tuhan, agar Tuhan di ingat di sana (Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali).
Bahkan secara rinci, kitab Veda menceritakan tentang bangunan tersebut :
Tempat kediaman malaikat ini, mempunyai delapan putaran dan sembilan pintu… (Atharva Veda 10:2:31)
Kitab Veda memberi gambaran sebenarnya tentang Ka’bah yang didirikan Nabi Ibrahim.
Makna delapan putaran adalah delapan garis alami yang mengitari wilayah Bakkah, diantara perbukitan, yaitu Jabl Khalij, Jabl Kaikan, Jabl Hindi, Jabl Lala, Jabl Kada, Jabl Hadida, Jabl Abi Qabes dan Jabl Umar.
Sementara sembilan pintu terdiri dari : Bab Ibrahim, Bab al Vida, Bab al Safa, Bab Ali, Bab Abbas, Bab al Nabi, Bab al Salam, Bab al Ziarat dan Bab al Haram.
Monotheisme Ibrahim
Peninggalan Nabi Ibrahim, sebagai Rasul pembawa ajaran Monotheisme, jejaknya masih dapat terlihat pada keyakinan suku Jawa, yang merupakan suku terbesar dari Bani Jawi.
Suku Jawa sudah sejak dahulu, mereka menganut monotheisme, seperti keyakinan adanya Sang Hyang Widhi atau Sangkan Paraning Dumadi.
Selain suku Jawa, pemahaman monotheisme juga terdapat di dalam masyarakat Sunda Kuno. Hal ini bisa kita jumpai pada Keyakinan Sunda Wiwitan. Mereka meyakini adanya ‘Allah Yang Maha Kuasa‘, yang dilambangkan dengan ucapan bahasa ‘Nu Ngersakeun‘ atau disebut juga ‘Sang Hyang Keresa‘.
Dengan demikian, adalah sangat wajar jika kemudian mayoritas Bani Jawi (khususnya masyarakat Jawa) menerima Islam sebagai keyakinannya. Karena pada hakekatnya, Islam adalah penyempurna dari ajaran Monotheisme (Tauhid) yang di bawa oleh leluhurnya Nabi Ibrahim.

Saturday, June 13, 2015

Pengen mancing


ini sedikit corat coret tentang hoby saya, dengan letak geografis pulau Batam yang seperti BHINEKA TUNGGAL IKA, pulau-pulau kecil dengan jembatan sebagai penghubung antar pulau.
seharusnya ini jadi surga para pemancing.

bisa dibayangin, tinggal lempar senar dari atas jembatan udah sampai di tengah2 laut, semakin jauh ke pelosok semakin banyak ikannya. perjalanan dari pulau batam menuju jembatan paling akhir memakan sekitar 1jam ( tergantung speed sich ).
nah...namanya juga tanah rantau para pencari nafkah... tiap akhir pekan bisa dipastikan tiap ruas jembatan bakalan ditemukan angler2 batam, entah itu yang serius, atau cuma sebagai kedok pacaran saja.
yang serius pastinya bawa peralatan komplit untuk mancing.

nah itu yang diatas serius mancingnya,..box es untuk umpan ( biar tetep seger), kotak peralatan pancing, bekal makan siang ( kalo inget makan ),..
ikan targetnya juga bervariasi, mulai dari pari, selar, ketarap, kerapu poyot, cucut/todak, lencing,dll..
sungguh hiburan yang luar biasa ketika pertama kali ikan menarik senar dari jari kita,,....
       nah ini salah satu lokasi favorit saya dan kawan2 senasib.


letaknya di sebelum jembatan 5 barelang, jarak tempuh sekitar 1 jam dari pulau batam, dijamin masih orisinil dan sepi tempatnya, tetapi bukan buat pacaran.
 setidaknya tiap minggu kami selalu "sowan" ketempat ini untuk sekedar nongkrong. dengan jarak pelantar sepanjang 50m dari pinggiran itu sudah memberikan spot yang lumayan, di ujung depan pelantar sendiri air sudah sedalam 5m, ikan yang numpang lewatpun bervariasi, dari yang sering didapat seperti kaci, lencing, poyot, pari, hiu totol, ketarap, bahkan promo sang juru kunci dia pernah mendapat ikan talang.



nah lumayan kan daripada beli lauk dipasar, ........dua orang inilah yang saling melengkapi jika trip mancing diadakan, sering kami berangkat dikala subuh dari batam, bersama teman menghitung kapan air pasang mulai naik, dengan modal dengkul, nasi bungkus dan peralatan seadanya udah cukup untuk menghilangkan rasa kangen mancing.
kalo mau lebih bermodal dan serius bisa sewa ini nih


dengan harga rental sehari mulai dari ganti ongkos bensin sampai ratusan ribu tergantung koneksi, tentu saja tidak dijamin hasilnya pasti dapat, lagi-lagi berbalik kepada keahlian dan pengalaman sang juru mudi aka tekong kapal,
tips saja untuk anda para pemula yang ingin merasakan sensasi mancing dengan pompong, jangan pernah mau disuruh duduk di depan, karena anda pasti kena "bully" jadi tukang angkat jangkar. kecuali anda-anda yang pengen kekar tapi tak punya waktu untuk fitnes, 
                kurang lebihnya itulah pengisi waktu para perambah kota batam ini, tak heran jika kecepatan pertumbuhan penduduk sama kencangnya dengan pengurangan populasi ikan di perairan batam, lha gimana g cepat penuh populasi penduduk di batam ini, lapangan pekerjaan tersedia, perumahan murah banyak, KUA dimana-mana, pendatang baru mayoritas kawula muda......yach mari dirawat dan dijaga saja lingkungan kita ini


setidaknya ini jadi seruan buat para sahabat saya saja,...kapan mancing maneh dab...??