Di dalam Mitologi Jawa diceritakan bahwa salah satu leluhur Bangsa Sunda (Jawa) adalah Batara Brahma atau Sri Maharaja Sunda, yang bermukim di Gunung Mahera.
Selain itu, nama Batara Brahma, juga terdapat di dalam Silsilah Babad Tanah Jawi. Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang menurunkan Sang Hyang Nur Rasa. Sang Hyang Nur Rasa kemudian menurunkan Sang Hyang Wenang, yang menurunkan Sang Hyang Tunggal. Dan Sang Hyang Tunggal, kemudian menurunkan Batara Guru, yang menurunkan Batara Brahma.
Berdasarkan pemahaman dari naskah-naskah kuno bangsa Jawa, Batara Brahma merupakan leluhur dari raja-raja di tanah Jawa.
Bani Jawi Keturunan Nabi Ibrahim
Di dalam Kitab ‘al-Kamil fi al-Tarikh‘ tulisan Ibnu Athir, menyatakan bahwa Bani Jawi (yang di dalamnya termasuk Bangsa Sunda, Jawa, Melayu Sumatera, Bugis… dsb), adalah keturunan Nabi Ibrahim.
Bani Jawi sebagai keturunan Nabi Ibrahim, semakin
nyata, ketika baru-baru ini, dari penelitian seorang Profesor Universiti
Kebangsaaan Malaysia (UKM), diperoleh data bahwa, di dalam darah DNA
Melayu, terdapat 27% Variant Mediterranaen (merupakan DNA bangsa-bangsa EURO-Semitik).
Variant Mediterranaen sendiri terdapat juga di dalam DNA keturunan Nabi Ibrahim yang lain, seperti pada bangsa Arab dan Bani Israil.
Sekilas dari beberapa pernyataan di atas, sepertinya terdapat
perbedaan yang sangat mendasar. Akan tetapi, setelah melalui
penyelusuran yang lebih mendalam, diperoleh fakta, bahwa Brahma yang terdapat di dalam Metologi Jawa indentik dengan Nabi Ibrahim.
Brahma adalah Nabi Ibrahim
Mitos atau Legenda, terkadang
merupakan peristiwa sejarah. Akan tetapi, peristiwa tersebut menjadi
kabur, ketika kejadiannya di lebih-lebihkan dari kenyataan yang ada.
Mitos Brahma sebagai leluhur bangsa-bangsa di Nusantara, boleh jadi
merupakan peristiwa sejarah, yakni mengenai kedatangan Nabi Ibrahim
untuk berdakwah, dimana kemudian beliau beristeri Siti Qanturah
(Qatura/Keturah), yang kelak akan menjadi leluhur Bani Jawi (Melayu
Deutro).
Dan kita telah sama pahami bahwa, Nabi Ibrahim
berasal dari bangsa ‘Ibriyah, kata ‘Ibriyah berasal dari ‘ain, ba, ra
atau ‘abara yang berarti menyeberang. Nama Ibra-him (alif ba ra-ha ya
mim), merupakan asal dari nama Brahma (ba ra-ha mim).
Beberapa fakta yang menunjukkan bahwa Brahma yang terdapat di dalam Mitologi Jawa adalah Nabi Ibrahim, di antaranya :
1. Nabi Ibrahim memiliki isteri bernama Sara, sementara Brahma pasangannya bernama Saraswati.
2. Nabi Ibrahim hampir mengorbankan anak sulungnya yang bernama Ismail, sementara Brahma terhadap anak sulungnya yang bernama Atharva (Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali)…
3. Brahma adalah perlambang Monotheisme, yaitu keyakinan kepada Tuhan Yang Esa (Brahman), sementara Nabi Ibrahim adalah Rasul yang mengajarkan ke-ESA-an ALLAH.
Ajaran Monotheisme di dalam Kitab Veda, antara lain :
Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan, Dia tidak pernah dilahirkan, Dia yg berhak disembah
Yajurveda Ch. 40 V. 8 menyatakan bahwa Tuhan tidak berbentuk dan dia suci
Atharvaveda Bk. 20 Hymn 58 V. 3 menyatakan bahwa sungguh Tuhan itu Maha Besar
Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan
Rigveda Bk. 1 Hymn 1 V. 1 menyebutkan : kami tidak menyembah kecuali Tuhan yg satu
Rigveda Bk. 6 Hymn 45 V. 6 menyebutkan “sembahlah Dia saja, Tuhan yang sesungguhnya”
Dalam Brahama Sutra disebutkan : “Hanya ada satu Tuhan, tidak ada yg kedua. Tuhan tidak berbilang sama sekali”.
Ajaran Monotheisme di dalam Veda, pada mulanya berasal dari Brahma (Nabi Ibrahim). Jadi makna awal dari Brahma bukanlah Pencipta, melainkan pembawa ajaran dari yang Maha Pencipta.
4. Nabi Ibrahim mendirikan Baitullah (Ka’bah) di Bakkah (Makkah), sementara Brahma membangun rumah Tuhan, agar Tuhan di ingat di sana (Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali).
Bahkan secara rinci, kitab Veda menceritakan tentang bangunan tersebut :
Tempat kediaman malaikat ini, mempunyai delapan putaran dan sembilan pintu… (Atharva Veda 10:2:31)
Kitab Veda memberi gambaran sebenarnya tentang Ka’bah yang didirikan Nabi Ibrahim.
Makna delapan putaran adalah delapan garis alami
yang mengitari wilayah Bakkah, diantara perbukitan, yaitu Jabl Khalij,
Jabl Kaikan, Jabl Hindi, Jabl Lala, Jabl Kada, Jabl Hadida, Jabl Abi
Qabes dan Jabl Umar.
Sementara sembilan pintu terdiri dari : Bab Ibrahim,
Bab al Vida, Bab al Safa, Bab Ali, Bab Abbas, Bab al Nabi, Bab al
Salam, Bab al Ziarat dan Bab al Haram.
Monotheisme Ibrahim
Peninggalan Nabi Ibrahim, sebagai Rasul pembawa ajaran Monotheisme, jejaknya masih dapat terlihat pada keyakinan suku Jawa, yang merupakan suku terbesar dari Bani Jawi.
Suku Jawa sudah sejak dahulu, mereka menganut monotheisme, seperti keyakinan adanya Sang Hyang Widhi atau Sangkan Paraning Dumadi.
Selain suku Jawa, pemahaman monotheisme juga terdapat di dalam masyarakat Sunda Kuno. Hal ini bisa kita jumpai pada Keyakinan Sunda Wiwitan. Mereka meyakini adanya ‘Allah Yang Maha Kuasa‘, yang dilambangkan dengan ucapan bahasa ‘Nu Ngersakeun‘ atau disebut juga ‘Sang Hyang Keresa‘.
Dengan demikian, adalah sangat wajar jika kemudian mayoritas Bani Jawi (khususnya masyarakat Jawa) menerima Islam sebagai keyakinannya. Karena pada hakekatnya, Islam adalah penyempurna dari ajaran Monotheisme (Tauhid) yang di bawa oleh leluhurnya Nabi Ibrahim.
Thursday, June 25, 2015
Saturday, June 13, 2015
Pengen mancing
ini sedikit corat coret tentang hoby saya, dengan letak geografis pulau Batam yang seperti BHINEKA TUNGGAL IKA, pulau-pulau kecil dengan jembatan sebagai penghubung antar pulau.
seharusnya ini jadi surga para pemancing.
bisa dibayangin, tinggal lempar senar dari atas jembatan udah sampai di tengah2 laut, semakin jauh ke pelosok semakin banyak ikannya. perjalanan dari pulau batam menuju jembatan paling akhir memakan sekitar 1jam ( tergantung speed sich ).
nah...namanya juga tanah rantau para pencari nafkah... tiap akhir pekan bisa dipastikan tiap ruas jembatan bakalan ditemukan angler2 batam, entah itu yang serius, atau cuma sebagai kedok pacaran saja.
yang serius pastinya bawa peralatan komplit untuk mancing.
nah itu yang diatas serius mancingnya,..box es untuk umpan ( biar tetep seger), kotak peralatan pancing, bekal makan siang ( kalo inget makan ),..
ikan targetnya juga bervariasi, mulai dari pari, selar, ketarap, kerapu poyot, cucut/todak, lencing,dll..
sungguh hiburan yang luar biasa ketika pertama kali ikan menarik senar dari jari kita,,....
nah ini salah satu lokasi favorit saya dan kawan2 senasib.
letaknya di sebelum jembatan 5 barelang, jarak tempuh sekitar 1 jam dari pulau batam, dijamin masih orisinil dan sepi tempatnya, tetapi bukan buat pacaran.
setidaknya tiap minggu kami selalu "sowan" ketempat ini untuk sekedar nongkrong. dengan jarak pelantar sepanjang 50m dari pinggiran itu sudah memberikan spot yang lumayan, di ujung depan pelantar sendiri air sudah sedalam 5m, ikan yang numpang lewatpun bervariasi, dari yang sering didapat seperti kaci, lencing, poyot, pari, hiu totol, ketarap, bahkan promo sang juru kunci dia pernah mendapat ikan talang.
nah lumayan kan daripada beli lauk dipasar, ........dua orang inilah yang saling melengkapi jika trip mancing diadakan, sering kami berangkat dikala subuh dari batam, bersama teman menghitung kapan air pasang mulai naik, dengan modal dengkul, nasi bungkus dan peralatan seadanya udah cukup untuk menghilangkan rasa kangen mancing.
kalo mau lebih bermodal dan serius bisa sewa ini nih
dengan harga rental sehari mulai dari ganti ongkos bensin sampai ratusan ribu tergantung koneksi, tentu saja tidak dijamin hasilnya pasti dapat, lagi-lagi berbalik kepada keahlian dan pengalaman sang juru mudi aka tekong kapal,
tips saja untuk anda para pemula yang ingin merasakan sensasi mancing dengan pompong, jangan pernah mau disuruh duduk di depan, karena anda pasti kena "bully" jadi tukang angkat jangkar. kecuali anda-anda yang pengen kekar tapi tak punya waktu untuk fitnes,
kurang lebihnya itulah pengisi waktu para perambah kota batam ini, tak heran jika kecepatan pertumbuhan penduduk sama kencangnya dengan pengurangan populasi ikan di perairan batam, lha gimana g cepat penuh populasi penduduk di batam ini, lapangan pekerjaan tersedia, perumahan murah banyak, KUA dimana-mana, pendatang baru mayoritas kawula muda......yach mari dirawat dan dijaga saja lingkungan kita ini
setidaknya ini jadi seruan buat para sahabat saya saja,...kapan mancing maneh dab...??
seharusnya ini jadi surga para pemancing.
bisa dibayangin, tinggal lempar senar dari atas jembatan udah sampai di tengah2 laut, semakin jauh ke pelosok semakin banyak ikannya. perjalanan dari pulau batam menuju jembatan paling akhir memakan sekitar 1jam ( tergantung speed sich ).
nah...namanya juga tanah rantau para pencari nafkah... tiap akhir pekan bisa dipastikan tiap ruas jembatan bakalan ditemukan angler2 batam, entah itu yang serius, atau cuma sebagai kedok pacaran saja.
yang serius pastinya bawa peralatan komplit untuk mancing.
nah itu yang diatas serius mancingnya,..box es untuk umpan ( biar tetep seger), kotak peralatan pancing, bekal makan siang ( kalo inget makan ),..
ikan targetnya juga bervariasi, mulai dari pari, selar, ketarap, kerapu poyot, cucut/todak, lencing,dll..
sungguh hiburan yang luar biasa ketika pertama kali ikan menarik senar dari jari kita,,....
nah ini salah satu lokasi favorit saya dan kawan2 senasib.
letaknya di sebelum jembatan 5 barelang, jarak tempuh sekitar 1 jam dari pulau batam, dijamin masih orisinil dan sepi tempatnya, tetapi bukan buat pacaran.
setidaknya tiap minggu kami selalu "sowan" ketempat ini untuk sekedar nongkrong. dengan jarak pelantar sepanjang 50m dari pinggiran itu sudah memberikan spot yang lumayan, di ujung depan pelantar sendiri air sudah sedalam 5m, ikan yang numpang lewatpun bervariasi, dari yang sering didapat seperti kaci, lencing, poyot, pari, hiu totol, ketarap, bahkan promo sang juru kunci dia pernah mendapat ikan talang.
nah lumayan kan daripada beli lauk dipasar, ........dua orang inilah yang saling melengkapi jika trip mancing diadakan, sering kami berangkat dikala subuh dari batam, bersama teman menghitung kapan air pasang mulai naik, dengan modal dengkul, nasi bungkus dan peralatan seadanya udah cukup untuk menghilangkan rasa kangen mancing.
kalo mau lebih bermodal dan serius bisa sewa ini nih
dengan harga rental sehari mulai dari ganti ongkos bensin sampai ratusan ribu tergantung koneksi, tentu saja tidak dijamin hasilnya pasti dapat, lagi-lagi berbalik kepada keahlian dan pengalaman sang juru mudi aka tekong kapal,
tips saja untuk anda para pemula yang ingin merasakan sensasi mancing dengan pompong, jangan pernah mau disuruh duduk di depan, karena anda pasti kena "bully" jadi tukang angkat jangkar. kecuali anda-anda yang pengen kekar tapi tak punya waktu untuk fitnes,
kurang lebihnya itulah pengisi waktu para perambah kota batam ini, tak heran jika kecepatan pertumbuhan penduduk sama kencangnya dengan pengurangan populasi ikan di perairan batam, lha gimana g cepat penuh populasi penduduk di batam ini, lapangan pekerjaan tersedia, perumahan murah banyak, KUA dimana-mana, pendatang baru mayoritas kawula muda......yach mari dirawat dan dijaga saja lingkungan kita ini
setidaknya ini jadi seruan buat para sahabat saya saja,...kapan mancing maneh dab...??
Sunday, May 24, 2015
batu akik, mistis dan seni
Dulu saya mengenal batu akik karena saya hoby "jalan-jalan malam",
ditemani oleh almarhum bapak beserta rombongan beliau. cukup sekedar melupakan
rutinitas harian dan kami sering menyebutnya dengan istilah "proyek
dedemit".
Apa ada diantara anda yang tak kenal
dedemit,.??....."ah itu kan konyol mas",... ya silahkan berkomentar
begitu, ini kan sekedar cerita ngalor ngidul saja sebelum nanti masuk ke
intinya.
Ok,.kembali ke cerita masa kecil saya di kota penuh
cinta,makanan enak, wisata alam yang menakjubkan, penuh budaya dan ramah tamah.
batu akik yang notabene sekarang dikenal sebagai citarasa seni memotong dan
menggosok dulu merupakan hasil perwujudan dari "belanja"di alam
abstrak alias alam gaib. yang cukup jadi pertanyaan adalah, "kenapa setiap
diwujudkan batu tersebut selalu berbentuk batu akik yang sudah siap
diikat menjadi batu cincin". dan sampai sekarangpun saya belum bisa
menjawabnya.
Setelah sekian banyak koleksi terkumpul akhirnya saya membeli sebuah buku di
pasar Beringharjo dengan judul " Batu permata dunia" karangan antah
berantah. nah mulai dari sini kita akan sedikit lebih fokus.
Kriteria penilaian batu mulia menurut saya harus memenuhi minimal 3C (Cut,Carat,Clarity)
1. Cut
atau potongan
Potongan batu juga sangat penting, ini lebih banyak dilihat berdasarkan hasil
potongan yang cacat daripada yang baik. nilai proporsional dan ketepatan potong
untuk mendapatkan pencahayaan dan bentuk yang terbaik sehingga dapat
memaksimalkan keindahan dari batu tersebut.
| Ini dipotong buruk: kita bisa melihat melalui itu ("mata ikan") dan tidak sparkle. | Ini dipotong buruk: kita bisa melihat melalui itu ("mata ikan") dan tidak sparkle. | dipotong ini lebih baik. Namun cahaya masih hilang melalui ke bawah | Ini adalah dipotong sempurna. Lihat berapa banyak semakin berkilau? |
berikut sebuah bentuk potongan batu mulia yang tidak melulu harus
setengah lingkaran
..nah
ini baru teknik memotong bro...
Pada
dasarnya teknik potongan batu permata didasarkan pada jenis batu itu sendiri,
ya ndak mungkin toh batu lumut saya potong menjadi seperti potongan berlian
(faceted), teknik potongan cabochon lebih pantas digunakan untuk batu mulia
yang ingin menampilkan sisi permukaannya.
2.
Carat atau karat
Karat adalah satuan massa atau berat yang digunakan sebelum dikonversian
kedalam nilai uang tertentu ( ora mudeng kan,.? )....sederhananya nilai suatu
berat berdasarkan nilai mata uang. kalo di pasar sini dalam Rupiah.
Istilah lain yang Anda harus akrab dengan adalah TCW . Ini
adalah singkatan untuk Total Carat Weight. Ketika berlian atau jenis batu
permata yang lain berukuran sangat kecil dan biasanya termasuk dalam sepotong
perhiasan atau dikenal sebagai chip, bukannya memberikan pengukuran
masing-masing batu kecil individu, itu diberikan berat total semua chip
bersama-sama.
Hal ini juga penting untuk dicatat
bahwa berlian kasar atau batu permata jauh lebih besar dalam berat karat
sebelum dipotong. Biasanya melalui proses pemotongan, banyak bahan berkualitas
rendah akan tersisih, terutama inklusi jika memungkinkan. Hasilnya massa akan
berkurang, tetapi biasanya kualitas batu akan jauh lebih cantik dan lebih
tinggi.
saya harap anda
mengerti lebih dari saya......................
3. Clarity atau kejelasan
Intinya adalah kejernihan atau kejelasan yang terdapat dalam benda tersebut,
daripada saya berceloteh banyak bak marketing lebih baik kita lihat gambar
dibawah ini
| Miskin Kejelasan: batu ini hampir kabur. Kita tidak bisa melihat ke dalamnya, dan tidak dapat kita melihat cahaya refleksi atau bercahaya dari dalam karena deposit mineral tebal (inklusi) di dalamnya. Safir kejelasan ini adalah umum dan kurang berharga | Kejelasan Layak: Kita bisa melihat ke sapphire ini agak: kedalaman warna dan cahaya yang mencerminkan dari beberapa aspek. Daerah berawan putih masih menghalangi keindahan dan membuatnya kurang berharga. | Kejelasan Khas: safir ini jelas tidak sempurna, tapi kita bisa menangkap cahaya dari sebagian besar aspek bawah. Ini adalah perwakilan dari apa yang banyak tersedia di pasar dan harga menengah (tergantung juga pada warna, potong dan ukuran) | Baik karena Gets. Wow. Sebuah safir sangat bagus, yang sejauh mata bisa mengatakan sangat jelas. Kita melihat ke seluruh batu dan menangkap banyak cahaya pantulan. Sapphire seperti ini jarang terjadi dan harga atas perintah. |
nah
cukup dengan gambar justru anda yang akan menjelaskan ke saya nilai 2 sebuah
"gemstone", tapi bagaimanakah dengan batu yang tidak tembus
pandang, sama halnya dengan item pertama. Clarity bisa tidak berlaku untuk
beberapa jenis batu mulia.
berdasar 3 hal tersebut, dahulu saya bisa memilah mana yang lebih berharga dan lebih punya nilai ekonomi,
Batu
permata "palsu" dan "asli":
Imitasi: Ini adalah apa yang bisa paling cukup disebut "palsu". Bila ada sesuatu yang dibuat agar terlihat seperti batu permata yang sesungguhnya adalah substansi yang sama sekali berbeda - yang imitasi. Sebagai contoh, bayangkan Anda berada di sebuah pasar loak dan Anda melihat sebuah cincin dengan batu "cantik merah" dan penjual memberitahu Anda itu adalah suatu ruby atau pirus. Namun, bila Anda bawa untuk mendapatkan penilaian Anda menemukan itu kaca. Kau dijual tiruan "" atau "palsu" Catatan tentang palsu.: Skenario ini terdengar bencana dan mungkin membuat Anda sangat takut pernah membeli perhiasan batu permata, namun sebenarnya, hal itu jarang terjadi. Jual perhiasan palsu (dan mengklaim itu nyata) adalah penipuan. Karena seperti batu permata adalah produk yang sensitif (mahal dan misterius), reputasi adalah segalanya. Jual satu batu palsu bahkan setelah 25 tahun menjual perhiasan yang baik bisa menghancurkan penghidupan penjual dengan menghancurkan reputasi mereka selamanya. Oleh karena itu, yakinlah bahwa kebanyakan orang yang profesional atau batu permata perhiasan penjual akan melakukan segala yang mungkin untuk memastikan mereka tidak menjual sesuatu yang palsu.
Imitasi: Ini adalah apa yang bisa paling cukup disebut "palsu". Bila ada sesuatu yang dibuat agar terlihat seperti batu permata yang sesungguhnya adalah substansi yang sama sekali berbeda - yang imitasi. Sebagai contoh, bayangkan Anda berada di sebuah pasar loak dan Anda melihat sebuah cincin dengan batu "cantik merah" dan penjual memberitahu Anda itu adalah suatu ruby atau pirus. Namun, bila Anda bawa untuk mendapatkan penilaian Anda menemukan itu kaca. Kau dijual tiruan "" atau "palsu" Catatan tentang palsu.: Skenario ini terdengar bencana dan mungkin membuat Anda sangat takut pernah membeli perhiasan batu permata, namun sebenarnya, hal itu jarang terjadi. Jual perhiasan palsu (dan mengklaim itu nyata) adalah penipuan. Karena seperti batu permata adalah produk yang sensitif (mahal dan misterius), reputasi adalah segalanya. Jual satu batu palsu bahkan setelah 25 tahun menjual perhiasan yang baik bisa menghancurkan penghidupan penjual dengan menghancurkan reputasi mereka selamanya. Oleh karena itu, yakinlah bahwa kebanyakan orang yang profesional atau batu permata perhiasan penjual akan melakukan segala yang mungkin untuk memastikan mereka tidak menjual sesuatu yang palsu.
Thursday, May 21, 2015
makna hidup yang disalah artikan " kejawen"
Ajaran kejawen, dalam perkembangan sejarahnya mengalami pasang surut.
Hal itu tidak lepas dari adanya benturan-benturan dengan teologi dan
budaya asing (Belanda, Arab, Cina, India, Jepang, AS). Yang paling keras
adalah benturan dengan teologi asing, karena kehadiran kepercayaan baru
disertai dengan upaya-upaya membangun kesan bahwa budaya Jawa itu hina,
memalukan, rendah martabatnya, bahkan kepercayaan lokal disebut sebagai
kekafiran, sehingga harus ditinggalkan sekalipun oleh tuannya sendiri,
dan harus diganti dengan “kepercayaan baru” yang dianggap paling mulia
segalanya. Dengan naifnya kepercayaan baru merekrut pengikut dengan
jaminan kepastian masuk syurga. Gerakan tersebut sangat efektif karena
dilakukan secara sistematis mendapat dukungan dari kekuatan politik
asing yang tengah bertarung di negeri ini.
Selain itu “pendatang baru” selalu berusaha membangun image buruk terhadap kearifan-kearifan lokal (baca: budaya Jawa) dengan cara memberikan contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), penyimpangan sosial, pelanggaran kaidah Kejawen, yang terjadi saat itu, diklaim oleh “pendatang baru” sebagai bukti nyata kesesatan ajaran Jawa. Hal itu sama saja dengan menganggap Islam itu buruk dengan cara menampilkan contoh perbuatan sadis terorisme, menteri agama yang korupsi, pejabat berjilbab yang selingkuh, kyai yang menghamili santrinya, dst.
Tidak berhenti disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan manusia Jawa dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. Bukti-bukti kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali naskah-naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, budi pekerti yang luhur bangsa (Jawa) Indonesia kuno sebelum era kewalian datang, kemudian dibumi hanguskan oleh para “pendatang baru” tersebut. Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, istilah-istilah Jawa yang dahulu mempunyai makna yang arif, luhur, bijaksana, kemudian dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif disesuaikan dengan kepentingan “pendatang baru” yang tidak suka dengan “local wisdom”. Akibatnya; istilah-istilah seperti; kejawen, klenik, mistis, tahyul mengalami degradasi makna, dan berkonotasi negatif. Istilah-istilah tersebut “di-sama-makna-kan” dengan dosa dan larangan-larangan dogma agama; misalnya; kemusyrikan, gugon tuhon, budak setan, menyembah setan, dst. Padahal tidak demikian makna aslinya, sebaliknya istilah tersebut justru mempunyai arti yang sangat religius sbb;
Klenik : merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan hukum sebab akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak lain bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agama manapun unsur “klenik” ini selalu ada.
Mistis : adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam agama Islam ruang mistik untuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan istilah tasawuf.
Tahyul : adalah kepercayaan akan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan makhluk gaib ciptan Tuhan. Manusia Jawa sangat mempercayai adanya kekuatan gaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta. Kepercayaan kepada yang gaib ini juga terdapat di dalam rukun Islam.
Tradisi : dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai bentuk isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: not action talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji dsb sebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam berdoa melibatkan empat unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan tindakan. Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib yang hidup berdampingan, agar selaras dan harmonis dalam manembah kapada Tuhan. Bagi manusia Jawa, setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakan riil (ihtiyar) sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat membuat doa terkabul. Akan tetapi niat dan makna dibalik tradisi ritual tersebut sering dianggap sebagai kegiatan gugon tuhon/ela-elu, asal ngikut saja, sikap menghamburkan, dan bentuk kemubadiran, dst.
Kejawen : berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara manusia dalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Akan tetapi, setelah abad 15 Majapahit runtuh oleh serbuan anaknya sendiri, dengan cara serampangan dan subyektif, jauh dari kearifan dan budi pekerti yg luhur, “pendatang baru” menganggap ajaran kejawen sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dan kekafiran. Maka harus dimusnahkan. Ironisnya, manusia Jawa yang sudah “kejawan” ilang jawane, justru mempuyai andil besar dalam upaya cultural assasination ini. Mereka lupa bahwa nilai budaya asli nenek moyang mereka itulah yang pernah membawa bumi nusantara ini menggapai masa kejayaannya di era Majapahit hingga berlangsung selama lima generasi penerus tahta kerajaan.
Ajaran Tentang Budi Pekerti, Menggapai Manusia Sejati
Dalam khasanah referensi kebudayaan Jawa dikenal berbagai literatur sastra yang mempunyai gaya penulisan beragam dan unik. Sebut saja misalnya; kitab, suluk, serat, babad, yang biasanya tidak hanya sekedar kumpulan baris-baris kalimat, tetapi ditulis dengan seni kesusastraan yang tinggi, berupa tembang yang disusun dalam bait-bait atau padha yang merupakan bagian dari tembang misalnya; pupuh, sinom, pangkur, pucung, asmaradhana dst. Teks yang disusun ialah yang memiliki kandungan unsur pesan moral, yang diajarkan tokoh-tokoh utama atau penulisnya, mewarnai seluruh isi teks.
Pendidikan moral budi pekerti menjadi pokok pelajaran yang diutamakan. Moral atau budi pekerti di sini dalam arti kaidah-kaidah yang membedakan baik atau buruk segala sesuatu, tata krama, atau aturan-aturan yang melarang atau menganjurkan seseorang dalam menghadapi lingkungan alam dan sosialnya. Sumber dari kaidah-kaidah tersebut didasari oleh keyakinan, gagasan, dan nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat yang bersangktan. Kaidah tersebut akan tampak dalam manifestasi tingkah laku dan perbuatan anggota masyarakat.
Demikian lah makna dari ajaran Kejawen yang sesungguhnya, dengan demikian dapat menambah jelas pemahaman terhadap konsepsi pendidikan budi pekerti yang mewarnai kebudayaan Jawa. Hal ini dapat diteruskan kepada generasi muda guna membentuk watak yang berbudi luhur dan bersedia menempa jiwa yang berkepribadian teguh. Uraian yang memaparkan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang diungkapkan diatas dapat membuka wawasan pikir dan hati nurani bangsa bahwa dalam masyarakat kuno asli pribumi telah terdapat seperangkat nilai-nilai moralitas yang dapat diterapkan untuk mengangkat harkat dan martabat hidup manusia.
Dua Ancaman Besar dalam Ajaran Kejawen
Dalam ajaran kejawen, terdapat dua bentuk ancaman besar yang mendasari sikap kewaspadaan (eling lan waspada), karena dapat menghancurkan kaidah-kaidah kemanusiaan, yakni; hawanepsu dan pamrih. Manusia harus mampu meredam hawa nafsu atau nutupi babahan hawa sanga. Yakni mengontrol nafsu-nafsunya yang muncul dari sembilan unsur yang terdapat dalam diri manusia, dan melepas pamrihnya.
Dalam perspektif kaidah Jawa, nafsu-nafsu merupakan perasaan kasar karena menggagalkan kontrol diri manusia, membelenggu, serta buta pada dunia lahir maupun batin. Nafsu akan memperlemah manusia karena menjadi sumber yang memboroskan kekuatan-kekuatan batin tanpa ada gunanya. Lebih lanjut, menurut kaidah Jawa nafsu akan lebih berbahaya karena mampu menutup akal budi. Sehingga manusia yang menuruti hawa nafsu tidak lagi menuruti akal budinya (budi pekerti). Manusia demikian tidak dapat mengembangkan segi-segi halusnya, manusia semakin mengancam lingkungannya, menimbulkan konflik, ketegangan, dan merusak ketrentaman yang mengganggu stabilitas kebangsaan
NAFSU
Hawa nafsu (lauwamah, amarah, supiyah) secara kejawen diungkapkan dalam bentuk akronim, yakni apa yang disebut M5 atau malima; madat, madon, maling, mangan, main; mabuk-mabukan, main perempuan, mencuri, makan, berjudi. Untuk meredam nafsu malima, manusia Jawa melakukan laku tapa atau “puasa”. Misalnya; tapa brata, tapa ngrame, tapa mendhem, tapa ngeli.
Tapa brata ; sikap perbuatan seseorang yang selalu menahan/puasa hawa nafsu yang berasal dari lima indra. Nafsu angkara yang buruk yakni lauwamah, amarah, supiyah.
Tapa ngrame; adalah watak untuk giat membantu, menolong sesama tetapi “sepi” dalam nafsu pamrih yakni golek butuhe dewe.
Tapa mendhem; adalah mengubur nafsu riak, takabur, sombong, suka pamer, pamrih. Semua sifat buruk dikubur dalam-dalam, termasuk “mengubur” amal kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang lain, dari benak ingatan kita sendiri. Manusia suci adalah mereka yang tidak ingat lagi apa saja amal kebaikan yang pernah dilakukan pada orang lain, sebaliknya selalu ingat semua kejahatan yg pernah dilakukannya.
Tapa ngeli, yakni menghanyutkan diri ke dalam arus “aliran air sungai Dzat”, yakni mengikuti kehendak Gusti Maha Wisesa. “Aliran air” milik Tuhan, seumpama air sungai yang mengalir menyusuri sungai, mengikuti irama alam, lekuk dan kelok sungai, yang merupakan wujud bahasa “kebijaksanaan” alam. Maka manusia tersebut akan sampai pada muara samudra kabegjan atau keberuntungan. Berbeda dengan “aliran air” bah, yang menuruti kehendak nafsu akan berakhir celaka, karena air bah menerjang wewaler kaidah tata krama, menghempas “perahu nelayan”, menerjang “pepohonan”, dan menghancurkan “daratan”.
PAMRIH
Pamrih merupakan ancaman ke dua bagi manusia. Bertindak karena pamrih berarti hanya mengutamakan kepentingan diri pribadi secara egois. Pamrih, mengabaikan kepentingan orang lain dan masyarakat. Secara sosiologis, pamrih itu mengacaukan (chaos) karena tindakannya tidak menghiraukan keselarasan sosial lingkungannya. Pamrih juga akan menghancurkan diri pribadi dari dalam, kerana pamrih mengunggulkan secara mutlak keakuannya sendiri (istilahnya Freud; ego). Karena itu, pamrih akan membatasi diri atau mengisolasi diri dari sumber kekuatan batin. Dalam kaca mata Jawa, pamrih yang berasal dari nafsu ragawi akan mengalahkan nafsu sukmani (mutmainah) yang suci. Pamrih mengutamakan kepentingan-kepentingan duniawi, dengan demikian manusia mengikat dirinya sendiri dengan dunia luar sehingga manusia tidak sanggup lagi untuk memusatkan batin dalam dirinya sendiri. Oleh sebab itu pula, pamrih menjadi faktor penghalang bagi seseorang untuk mencapai “kemanunggalan” kawula gusti.
Pamrih itu seperti apa, tidak setiap orang mampu mengindentifikasi. Kadang orang dengan mudah mengartikan pamrih itu, tetapi secara tidak sadar terjebak oleh perspektif subyektif yang berangkat dari kepentingan dirinya sendiri untuk melakukan pembenaran atas segala tindakannya. Untuk itu penting Sabdalangit kemukakan bentuk-bentuk pamrih yang dibagi dalam tiga bentuk nafsu dalam perspektif KEJAWEN :
Nafsu selalu ingin menjadi orang pertama, yakni; nafsu golek menange dhewe; selalu ingin menangnya sendiri.
Nafsu selalu menganggap dirinya selalu benar; nafsu golek benere dhewe.
Nafsu selalu mementingkan kebutuhannya sendiri; nafsu golek butuhe dhewe. Kelakuan buruk seperti ini disebut juga sebagai aji mumpung. Misalnya mumpung berkuasa, lantas melakukan korupsi, tanpa peduli dengan nasib orang lain yang tertindas.
Untuk menjaga kaidah-kaidah manusia supaya tetap teguh dalam menjaga kesucian raga dan jiwanya, dikenal di dalam falsafah dan ajaran Jawa sebagai lakutama, perilaku hidup yang utama. Sembah merupakan salah satu bentuk lakutama, sebagaimana di tulis oleh pujangga masyhur (tahun 1811-1880-an) dan pengusaha sukses, yang sekaligus Ratu Gung Binatara terkenal karena sakti mandraguna, yakni Gusti Mangkunegoro IV dalam kitab Wedhatama (weda=perilaku, tama=utama) mengemukakan sistematika yang runtut dan teratur dari yang rendah ke tingkatan tertinggi, yakni catur sembah; sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Catur sembah ini senada dengan nafsul mutmainah (ajaran Islam) yang digunakan untuk meraih ma’rifatullah, nggayuh jumbuhing kawula Gusti. Apabila seseorang dapat menjalani secara runtut catur sembah hingga mencapai sembah yang paling tinggi, niscaya siapapun akan mendapatkan anugerah agung menjadi manusia linuwih, atas berkat kemurahan Tuhan Yang Maha Kasih, tidak tergantung apa agamanya.
jiplakan dari seorang yang "arif dan bijak"
Selain itu “pendatang baru” selalu berusaha membangun image buruk terhadap kearifan-kearifan lokal (baca: budaya Jawa) dengan cara memberikan contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), penyimpangan sosial, pelanggaran kaidah Kejawen, yang terjadi saat itu, diklaim oleh “pendatang baru” sebagai bukti nyata kesesatan ajaran Jawa. Hal itu sama saja dengan menganggap Islam itu buruk dengan cara menampilkan contoh perbuatan sadis terorisme, menteri agama yang korupsi, pejabat berjilbab yang selingkuh, kyai yang menghamili santrinya, dst.
Tidak berhenti disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan manusia Jawa dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. Bukti-bukti kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali naskah-naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, budi pekerti yang luhur bangsa (Jawa) Indonesia kuno sebelum era kewalian datang, kemudian dibumi hanguskan oleh para “pendatang baru” tersebut. Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, istilah-istilah Jawa yang dahulu mempunyai makna yang arif, luhur, bijaksana, kemudian dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif disesuaikan dengan kepentingan “pendatang baru” yang tidak suka dengan “local wisdom”. Akibatnya; istilah-istilah seperti; kejawen, klenik, mistis, tahyul mengalami degradasi makna, dan berkonotasi negatif. Istilah-istilah tersebut “di-sama-makna-kan” dengan dosa dan larangan-larangan dogma agama; misalnya; kemusyrikan, gugon tuhon, budak setan, menyembah setan, dst. Padahal tidak demikian makna aslinya, sebaliknya istilah tersebut justru mempunyai arti yang sangat religius sbb;
Klenik : merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan hukum sebab akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak lain bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agama manapun unsur “klenik” ini selalu ada.
Mistis : adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam agama Islam ruang mistik untuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan istilah tasawuf.
Tahyul : adalah kepercayaan akan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan makhluk gaib ciptan Tuhan. Manusia Jawa sangat mempercayai adanya kekuatan gaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta. Kepercayaan kepada yang gaib ini juga terdapat di dalam rukun Islam.
Tradisi : dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai bentuk isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: not action talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji dsb sebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam berdoa melibatkan empat unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan tindakan. Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib yang hidup berdampingan, agar selaras dan harmonis dalam manembah kapada Tuhan. Bagi manusia Jawa, setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakan riil (ihtiyar) sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat membuat doa terkabul. Akan tetapi niat dan makna dibalik tradisi ritual tersebut sering dianggap sebagai kegiatan gugon tuhon/ela-elu, asal ngikut saja, sikap menghamburkan, dan bentuk kemubadiran, dst.
Kejawen : berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara manusia dalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Akan tetapi, setelah abad 15 Majapahit runtuh oleh serbuan anaknya sendiri, dengan cara serampangan dan subyektif, jauh dari kearifan dan budi pekerti yg luhur, “pendatang baru” menganggap ajaran kejawen sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dan kekafiran. Maka harus dimusnahkan. Ironisnya, manusia Jawa yang sudah “kejawan” ilang jawane, justru mempuyai andil besar dalam upaya cultural assasination ini. Mereka lupa bahwa nilai budaya asli nenek moyang mereka itulah yang pernah membawa bumi nusantara ini menggapai masa kejayaannya di era Majapahit hingga berlangsung selama lima generasi penerus tahta kerajaan.
Ajaran Tentang Budi Pekerti, Menggapai Manusia Sejati
Dalam khasanah referensi kebudayaan Jawa dikenal berbagai literatur sastra yang mempunyai gaya penulisan beragam dan unik. Sebut saja misalnya; kitab, suluk, serat, babad, yang biasanya tidak hanya sekedar kumpulan baris-baris kalimat, tetapi ditulis dengan seni kesusastraan yang tinggi, berupa tembang yang disusun dalam bait-bait atau padha yang merupakan bagian dari tembang misalnya; pupuh, sinom, pangkur, pucung, asmaradhana dst. Teks yang disusun ialah yang memiliki kandungan unsur pesan moral, yang diajarkan tokoh-tokoh utama atau penulisnya, mewarnai seluruh isi teks.
Pendidikan moral budi pekerti menjadi pokok pelajaran yang diutamakan. Moral atau budi pekerti di sini dalam arti kaidah-kaidah yang membedakan baik atau buruk segala sesuatu, tata krama, atau aturan-aturan yang melarang atau menganjurkan seseorang dalam menghadapi lingkungan alam dan sosialnya. Sumber dari kaidah-kaidah tersebut didasari oleh keyakinan, gagasan, dan nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat yang bersangktan. Kaidah tersebut akan tampak dalam manifestasi tingkah laku dan perbuatan anggota masyarakat.
Demikian lah makna dari ajaran Kejawen yang sesungguhnya, dengan demikian dapat menambah jelas pemahaman terhadap konsepsi pendidikan budi pekerti yang mewarnai kebudayaan Jawa. Hal ini dapat diteruskan kepada generasi muda guna membentuk watak yang berbudi luhur dan bersedia menempa jiwa yang berkepribadian teguh. Uraian yang memaparkan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang diungkapkan diatas dapat membuka wawasan pikir dan hati nurani bangsa bahwa dalam masyarakat kuno asli pribumi telah terdapat seperangkat nilai-nilai moralitas yang dapat diterapkan untuk mengangkat harkat dan martabat hidup manusia.
Dua Ancaman Besar dalam Ajaran Kejawen
Dalam ajaran kejawen, terdapat dua bentuk ancaman besar yang mendasari sikap kewaspadaan (eling lan waspada), karena dapat menghancurkan kaidah-kaidah kemanusiaan, yakni; hawanepsu dan pamrih. Manusia harus mampu meredam hawa nafsu atau nutupi babahan hawa sanga. Yakni mengontrol nafsu-nafsunya yang muncul dari sembilan unsur yang terdapat dalam diri manusia, dan melepas pamrihnya.
Dalam perspektif kaidah Jawa, nafsu-nafsu merupakan perasaan kasar karena menggagalkan kontrol diri manusia, membelenggu, serta buta pada dunia lahir maupun batin. Nafsu akan memperlemah manusia karena menjadi sumber yang memboroskan kekuatan-kekuatan batin tanpa ada gunanya. Lebih lanjut, menurut kaidah Jawa nafsu akan lebih berbahaya karena mampu menutup akal budi. Sehingga manusia yang menuruti hawa nafsu tidak lagi menuruti akal budinya (budi pekerti). Manusia demikian tidak dapat mengembangkan segi-segi halusnya, manusia semakin mengancam lingkungannya, menimbulkan konflik, ketegangan, dan merusak ketrentaman yang mengganggu stabilitas kebangsaan
NAFSU
Hawa nafsu (lauwamah, amarah, supiyah) secara kejawen diungkapkan dalam bentuk akronim, yakni apa yang disebut M5 atau malima; madat, madon, maling, mangan, main; mabuk-mabukan, main perempuan, mencuri, makan, berjudi. Untuk meredam nafsu malima, manusia Jawa melakukan laku tapa atau “puasa”. Misalnya; tapa brata, tapa ngrame, tapa mendhem, tapa ngeli.
Tapa brata ; sikap perbuatan seseorang yang selalu menahan/puasa hawa nafsu yang berasal dari lima indra. Nafsu angkara yang buruk yakni lauwamah, amarah, supiyah.
Tapa ngrame; adalah watak untuk giat membantu, menolong sesama tetapi “sepi” dalam nafsu pamrih yakni golek butuhe dewe.
Tapa mendhem; adalah mengubur nafsu riak, takabur, sombong, suka pamer, pamrih. Semua sifat buruk dikubur dalam-dalam, termasuk “mengubur” amal kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang lain, dari benak ingatan kita sendiri. Manusia suci adalah mereka yang tidak ingat lagi apa saja amal kebaikan yang pernah dilakukan pada orang lain, sebaliknya selalu ingat semua kejahatan yg pernah dilakukannya.
Tapa ngeli, yakni menghanyutkan diri ke dalam arus “aliran air sungai Dzat”, yakni mengikuti kehendak Gusti Maha Wisesa. “Aliran air” milik Tuhan, seumpama air sungai yang mengalir menyusuri sungai, mengikuti irama alam, lekuk dan kelok sungai, yang merupakan wujud bahasa “kebijaksanaan” alam. Maka manusia tersebut akan sampai pada muara samudra kabegjan atau keberuntungan. Berbeda dengan “aliran air” bah, yang menuruti kehendak nafsu akan berakhir celaka, karena air bah menerjang wewaler kaidah tata krama, menghempas “perahu nelayan”, menerjang “pepohonan”, dan menghancurkan “daratan”.
PAMRIH
Pamrih merupakan ancaman ke dua bagi manusia. Bertindak karena pamrih berarti hanya mengutamakan kepentingan diri pribadi secara egois. Pamrih, mengabaikan kepentingan orang lain dan masyarakat. Secara sosiologis, pamrih itu mengacaukan (chaos) karena tindakannya tidak menghiraukan keselarasan sosial lingkungannya. Pamrih juga akan menghancurkan diri pribadi dari dalam, kerana pamrih mengunggulkan secara mutlak keakuannya sendiri (istilahnya Freud; ego). Karena itu, pamrih akan membatasi diri atau mengisolasi diri dari sumber kekuatan batin. Dalam kaca mata Jawa, pamrih yang berasal dari nafsu ragawi akan mengalahkan nafsu sukmani (mutmainah) yang suci. Pamrih mengutamakan kepentingan-kepentingan duniawi, dengan demikian manusia mengikat dirinya sendiri dengan dunia luar sehingga manusia tidak sanggup lagi untuk memusatkan batin dalam dirinya sendiri. Oleh sebab itu pula, pamrih menjadi faktor penghalang bagi seseorang untuk mencapai “kemanunggalan” kawula gusti.
Pamrih itu seperti apa, tidak setiap orang mampu mengindentifikasi. Kadang orang dengan mudah mengartikan pamrih itu, tetapi secara tidak sadar terjebak oleh perspektif subyektif yang berangkat dari kepentingan dirinya sendiri untuk melakukan pembenaran atas segala tindakannya. Untuk itu penting Sabdalangit kemukakan bentuk-bentuk pamrih yang dibagi dalam tiga bentuk nafsu dalam perspektif KEJAWEN :
Nafsu selalu ingin menjadi orang pertama, yakni; nafsu golek menange dhewe; selalu ingin menangnya sendiri.
Nafsu selalu menganggap dirinya selalu benar; nafsu golek benere dhewe.
Nafsu selalu mementingkan kebutuhannya sendiri; nafsu golek butuhe dhewe. Kelakuan buruk seperti ini disebut juga sebagai aji mumpung. Misalnya mumpung berkuasa, lantas melakukan korupsi, tanpa peduli dengan nasib orang lain yang tertindas.
Untuk menjaga kaidah-kaidah manusia supaya tetap teguh dalam menjaga kesucian raga dan jiwanya, dikenal di dalam falsafah dan ajaran Jawa sebagai lakutama, perilaku hidup yang utama. Sembah merupakan salah satu bentuk lakutama, sebagaimana di tulis oleh pujangga masyhur (tahun 1811-1880-an) dan pengusaha sukses, yang sekaligus Ratu Gung Binatara terkenal karena sakti mandraguna, yakni Gusti Mangkunegoro IV dalam kitab Wedhatama (weda=perilaku, tama=utama) mengemukakan sistematika yang runtut dan teratur dari yang rendah ke tingkatan tertinggi, yakni catur sembah; sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Catur sembah ini senada dengan nafsul mutmainah (ajaran Islam) yang digunakan untuk meraih ma’rifatullah, nggayuh jumbuhing kawula Gusti. Apabila seseorang dapat menjalani secara runtut catur sembah hingga mencapai sembah yang paling tinggi, niscaya siapapun akan mendapatkan anugerah agung menjadi manusia linuwih, atas berkat kemurahan Tuhan Yang Maha Kasih, tidak tergantung apa agamanya.
jiplakan dari seorang yang "arif dan bijak"
puisi pencari adrenalin
HRRR....HHRRRR...HHHRRR........
KAMI ADALAH PENUNGGANG MOTOR LIAR SEKALI,…………
HAMPIR SELALU TANCAP GAS DAN MENDERU-DERU,………………
KAMI TEROR JALAN RAYA,………………………………
KAMI MENANTANG SETIAP ORANG DAN DITANTANG SETIAP ORANG…………………..
TUBUH KAMI HANYA MENGENAL SATU KEGAIRAHAN,………….
MEMBUNGKUK DI PENGKOLAN,……………..
MERUNDUK DI JALAN LURUS,…………………….
NAFAS DAN PAKAIAN BAU BENSIN SERTA OLI YANG FANA NAN KEKAL ABADI,……………….
HIKMAT DAN KEINDAHAN TERSUGUH DALAM MERK HONDA,… YAMAHA,… SUZUKI,…. HARLEY DAVIDSON DAN CAGIVA,…….
HANYA ADA SATU CODA DARI MUSIK MESIN ,…….
YANG BERTAMBAH KERAS DARI MOTOR YANG BERTANDING,….
KEHENINGAN ABADI YANG TIADA TERSENTUH,……….
ADALAH NERAKA GILA KETIKA KAMI MENDERU DENGAN KECEPATAN SERATUS MENIKUK PENGKOLAN,……….
INILAH KEABADIAN BARU,………….
DI MANA YANG ADA HANYA ANGIN DAN HINGAR,………
DAN TIADA PEMBATASAN,…………………………….
DAN JANGAN PERNAH TAKUT KAWAN,………… SEBAB,………….
BEGITU MENAKJUBKAN KEHIDUPAN YANG TUHAN LIMPAHKAN,……….
SEHINGGA HANYA KEMATIAN YANG HEBAT ITULAH,………..
SATU-SATUNYA PENUTUP YANG BERMARTABAT,………………..
KAUDENGAR SI BUDI..?,…… GARPU DEPANNYA MASUK 30 CM KE DALAM POHON ASAM,……. BENAKNYA KELEPETAN DI TONGGAK KILOMETER DELAPAN BELAS,. HA,…..HA,…..HA,…..HA,…..
SI TOGOG TURUN DARI PUNCAK DENGAN MESIN MATI,………..
TOLOL,….. MENABRAK KAMBING,….. MELAYANG DI UDARA,…..
,….DAN,…… JUMPALITAN MASUK KALI,….. DAN COBA TERKA..!!
APA YANG MENYUSULNYA DARI LANGIT..?..MOTOR RX-KINGNYA.!!
RIJAL SETENGAH MATI MEMBURU PANTHER,…… TAPI IA BISA,…..
DAN BARU SAJA IA TANCAP GAS,…. APA YANG DATANG DARI SANA,..?…. SEBUAH TRUK,…. DITARIKNYA KEPALA DIANTARA KEDUA BAHUNYA,……..KAKINYA NAIK KE ATAS PERUT,………. ,…MATA TERPEJAM,…..MENEROBOS DI TENGAH BARISAN,…..
DAN,.. BUNYI TENG..!!!,….. PIJAKAN KAKI COPOT,………… TERSEREMPET TRUK DAN PANTHER ITU,…. RIJAL TAK TAU,….. DITURUNKANNYA KAKINYA,……TEK,…TEK,…. DIATAS JALAN,…. KEDUANYA PATAH,……..IA HERAN RUPANYA,…… DAN,……… LUPA BELOK,. ….. LALU MENGHANTAM BIS SURAT,…….
DAN DI MANA IA BERBARING,…?,…….. DI TANGGA APOTIK..!!!…
“…SUMPAH,…!!!,… KAMI SUNGGUH TAK KENAL TAKUT,…!!!,…”
KAMI ADALAH PENUNGGANG MOTOR LIAR SEKALI,…………
HAMPIR SELALU TANCAP GAS DAN MENDERU-DERU,………………
KAMI TEROR JALAN RAYA,………………………………
KAMI MENANTANG SETIAP ORANG DAN DITANTANG SETIAP ORANG…………………..
TUBUH KAMI HANYA MENGENAL SATU KEGAIRAHAN,………….
MEMBUNGKUK DI PENGKOLAN,……………..
MERUNDUK DI JALAN LURUS,…………………….
NAFAS DAN PAKAIAN BAU BENSIN SERTA OLI YANG FANA NAN KEKAL ABADI,……………….
HIKMAT DAN KEINDAHAN TERSUGUH DALAM MERK HONDA,… YAMAHA,… SUZUKI,…. HARLEY DAVIDSON DAN CAGIVA,…….
HANYA ADA SATU CODA DARI MUSIK MESIN ,…….
YANG BERTAMBAH KERAS DARI MOTOR YANG BERTANDING,….
KEHENINGAN ABADI YANG TIADA TERSENTUH,……….
ADALAH NERAKA GILA KETIKA KAMI MENDERU DENGAN KECEPATAN SERATUS MENIKUK PENGKOLAN,……….
INILAH KEABADIAN BARU,………….
DI MANA YANG ADA HANYA ANGIN DAN HINGAR,………
DAN TIADA PEMBATASAN,…………………………….
DAN JANGAN PERNAH TAKUT KAWAN,………… SEBAB,………….
BEGITU MENAKJUBKAN KEHIDUPAN YANG TUHAN LIMPAHKAN,……….
SEHINGGA HANYA KEMATIAN YANG HEBAT ITULAH,………..
SATU-SATUNYA PENUTUP YANG BERMARTABAT,………………..
KAUDENGAR SI BUDI..?,…… GARPU DEPANNYA MASUK 30 CM KE DALAM POHON ASAM,……. BENAKNYA KELEPETAN DI TONGGAK KILOMETER DELAPAN BELAS,. HA,…..HA,…..HA,…..HA,…..
SI TOGOG TURUN DARI PUNCAK DENGAN MESIN MATI,………..
TOLOL,….. MENABRAK KAMBING,….. MELAYANG DI UDARA,…..
,….DAN,…… JUMPALITAN MASUK KALI,….. DAN COBA TERKA..!!
APA YANG MENYUSULNYA DARI LANGIT..?..MOTOR RX-KINGNYA.!!
RIJAL SETENGAH MATI MEMBURU PANTHER,…… TAPI IA BISA,…..
DAN BARU SAJA IA TANCAP GAS,…. APA YANG DATANG DARI SANA,..?…. SEBUAH TRUK,…. DITARIKNYA KEPALA DIANTARA KEDUA BAHUNYA,……..KAKINYA NAIK KE ATAS PERUT,………. ,…MATA TERPEJAM,…..MENEROBOS DI TENGAH BARISAN,…..
DAN,.. BUNYI TENG..!!!,….. PIJAKAN KAKI COPOT,………… TERSEREMPET TRUK DAN PANTHER ITU,…. RIJAL TAK TAU,….. DITURUNKANNYA KAKINYA,……TEK,…TEK,…. DIATAS JALAN,…. KEDUANYA PATAH,……..IA HERAN RUPANYA,…… DAN,……… LUPA BELOK,. ….. LALU MENGHANTAM BIS SURAT,…….
DAN DI MANA IA BERBARING,…?,…….. DI TANGGA APOTIK..!!!…
“…SUMPAH,…!!!,… KAMI SUNGGUH TAK KENAL TAKUT,…!!!,…”
Subscribe to:
Posts (Atom)





